Tuesday, June 27, 2017

Kesinambungan Demokrasi Indonesia

Perayaan proklamasi ke-67 RI tahun ini, beriringan dengan gelombang reformasi yang sudah mencapai 14 tahun. Bila ditilik lebih dalam, maka gelombang dahsyat demokrasi era reformasi mengalami puncaknya pada 2004-2009. Cirinya ialah† masyarakat antusias dalam pemilu (dan pilkada),† serta agenda dan alokasi waktu dan segala sumberdaya untuk proses pemilihan umum (dan pilkada). Tapi ciri itu perlu diwaspadai, karena tidak seluruh antusiasme itu merefleksikan perkembangan demokratisasi† secara substansial (Van de Walle, 2002). Hal itu juga ditunjukkan oleh† Ornett dan† Hewitt (2006) bahwa euforia demokrasi yang disimpulkan sebagai demokrasi gelombang† dahsyat seperti itu terjadi† karena adanya karakter ketokohan (personal rule) dan† pengelompokan (clienteism).
Ketika Mahkamah Konstitusi tahun 2007 mengabulkan calon perseorangan dapat menjadi peserta dalam Pilkada semkain jelas kita membiarkan realitas politik masyarakat berkembang† dengan ciri personal rule† dalam lay out† dan prilaku politik bangsa Indonesia. Disisi yang lain, berdampingan dengan itu,† dan sama kuatnya, ada pula ciri demokrasi barat (yaitu : dengan pelembagaan pemilu dan governance system).
Perjalanan†† menunjukkan bahwa Indonesia punya ciri sendiri dalam berdemokrasi, bukan semata-mata demokrasi tipe barat (Eropa/Amerika) ataupun tipe clienteism (Afrika). Di Indonesia, banyak dijumpai tokoh-tokoh berpengaruh yang "dipakai" (pada waktu lalu) untuk membantu pemerintah mendorong pembangunan, termasuk partai politik juga menggunakannya. Tokoh-tokoh itu sesungguhnya merupakan sistem representasi yang tidak melembaga† karena mereka merupakan jaringan patronase yang dipercaya yang sesungguhnya dapat dinilai setara dengan nilai vote. Tokoh-tokoh itu di† era reformasi terlibat secara langsung dalam partai politik (walau tidak semua, tentu) atau duduk dalam lembaga politik† formal lainnya. Perkembangan dari pemilu ke pemilu di Indonesia telah membawa simpul-simpul representasi atau ďdummy representationď tersebut yang bertahap† sekarang bertransformasi secara melembaga dengan cara antara lain rekruitmen oleh parpol menjadi caleg ataupun juga hadirnya tokoh-tokoh tersebut dalam wadah Dewan Perwakilan Daerah.
Momentum HUT RI 67 dapat menjadi momen refleksi Indonesia untuk mempertahankan demokrasi berkembang menurut nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, Pancasila. Cirinya antara lain terfeleksi dalam kehidupan nyata di masyarakat yang majemuk. Memelihara† demokrasi Indonesia, dapat dilakukan dengan memperhatikan dua hal pokok, yaitu, pertama,† peran elit.† Elit adalah orang yang mempunyai kekuatan besar dalam sistem politik nasional. Pada para elit, melekat ciri-ciri : orang yang membentuk keputusan† utama dalam politik dan ekonomi, menteri, legislator, pemilik dan pengawas stasiun televisi/radio, para penguasa bisnis, para pemilik properti yang besar, birokrat tingkat tinggi, para petinggi† tentara, polisi dan intel, intelektual yang dikenal dan dipercaya publik, para profesionalis (pengacara dan dokter), editor media cetak utama atau pimpinan† lembaga-lembaga sosial yeng berpengaruh, asosiasi perdagangan/industri/usaha dan pergerakan ulama dan keagamaan, perguruan tinggi dan LSM. (Hossain and Moore, 2002).† Pada banyak negara elit hampir selalu secara politik dan ekonomi memiliki keterkaitan dengan negara dan sering berkembang dalam hubungan yang erat dan atau senantiasa berada di lingkungan pusat kekuasaan negara (Ornert dan Hewitt, 2006).
Kedua, mengelola politik kemajemukan. Indonesia sudah secara "given" terlahir sebagai negara bangsa yang majemuk. Kemajemukan Indonesia, berbeda dari kemajemukan Amerika Serikat atau Indian atau bahkan mungkin Malaysia (kalau akan dibilang juga bahwa Malaysia cukup majemuk).† Kemajemukan Indonesia hadir sebagai bangsa yang menegara. Beda dari Amerika Serikat yang punya indigenous people. Di Indonesia, kurang tepat† kalau akan dipakai istilah indigenous people. Indonesia juga beda dari Malaysia yang hadir dengan tiga suku besar yaitu† Melayu, China dan India dengan format yang cukup jelas. Kemajemukan Indonesia tidak saja dalam etnis dan agama, juga dalam† budaya dan adat yang ratusan sampai ribuan jenis.† Kemajemukan ini harus dipercaya memperkaya Demokrasi Indonesia semakin tumbuh subur.†
Jangan percaya cara orang lain menilai demokrasi Indonesia, karena yang memahami† cita-cita† kemerdekaan ialah bangsa Indonesia sendiri, yaitu untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Mengelola kemajemukan telah didalami sangat lama antara lain dengan konsep Wawasan Nusantara. Konsep itu sekarang dapat bersublimasi dalam wadah Dewan Pewakialan Daerah Republik Indonesia.


Terms of The Day

  • Constitution   Fundamental and entrenched rules governing the conduct of an organization or nation state, and...
  • Government   A group of people that governs a community or unit. It sets and administers public policy and...
  • Security   The prevention of and protection against assault, damage, fire, fraud, invasion of privacy, theft,...
  • Consumer Price Index (CPI)   A measure of changes in the purchasing-power of a currency and the rate of inflation. The consumer...
  • Risk   A probability or threat of damage, injury, liability, loss, or any other negative occurrence that...
  • Quality   In manufacturing, a measure of excellence or a state of being free from defects, deficiencies...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Kegiatan Siti Nurbaya

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  • 32
  • 33
  • 34
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • 40
  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • 45
  • 46
  • 47
  • 48
  • 49
  • 50
  • 51
  • 52
  • 53
  • 54
  • 55
  • 56

Gallery Video

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9

Semua Artikelku Untukmu

Wawancara & Kolom

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9