Wednesday, December 13, 2017

IPDN dan Kepemimpinan PAMONG

Kita  menarik pelajaran sangat  penting dari peristiwa meninggalnya Cliff Muntu, praja IPDN, di tahun 2007, setelah meninggalnya Wahyu Hidayat, praja STPDN pada September 2003. Persoalan yang dihadapi oleh IPDN/STPDN sebagaimana mungkin dialami oleh organisasi pendidikan lain, merupakan refleksi dari dinamika proses pelembagaan (institutionalization) suatu institusi yang dalam kurun waktu empat tahun sejak tahun 2003 ternyata menunjukkan ketidak-berhasilan. Proses pelembagaan tersebut menyangkut antara lain peraturan perundang-undangan, struktur dan jaringan organisasi, dan perangkat pendukung, yang secara simultan membentuk, mempengaruhi dan terlembagakan selama proses pembelajaran; serta nilai, norma, dan budaya yang hidup, mempengaruhi, berproses serta membentuk cara hidup.  Pelembagaan  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti upaya memastikan para aktor dengan beragam kepentingan berprilaku sesuai pola yang disepakati. Pada dasarnya proses pelembagaan STPDN dan kemudian menjadi IPDN memiliki tujuan pendidikan, yakni menyiapkan kader pimpinan yang berwawasan nasional, tidak terkotak-kotak kedaerahan, memiliki kesadaran, harga diri, rasa tanggungjawab, berdisiplin, memiliki kemampuan dan ketrampilan teknis ilmiah untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas sesuai dengan sasaran pengembangan karir. Secara khusus perhatian tertuju kepada Pola Pengasuhan Praja STPDN/IPDN serta pengawasan dalam kegiatan pengasuhan. Selain itu juga pengkajian-ulang kompetensi akademik, kurikulum, kelembagaan dan ketatalaksanaan di dalam kampus. Berbagai pemikiran dan pandangan yang muncul di tengah-tengah masyarakat dapat  menjadi  bahan  masukan yang sangat berharga bagi pengembangan rencana lanjut serta  benchmarking  pengembangan institusi ke depan setelah peristiwa tragis itu.  

Peristiwa  Cliff secara langsung seperti memberi indikasi  bahwa IPDN tidak berubah dari STPDN. Kita juga tidak banyak mendengar bagaimana sosok perubahan tersebut selama ini karena kelemahan dalam sosialisasi atau memang tidak terjadi perubahan dari lembaga STPDN menjadi IPDN tersebut. Sepertinya  nama saja yang berubah dari STPDN menjadi IPDN, tanpa terjadi pelembagaan sebagaimana diprogramkan.  Telah terjadi atau belum terjadi  perubahan, mungkin tetap menarik bagi kita untuk mengenal  sedikit lebih jauh tentang STPDN atau sekarang IPDN. IPDN, atau dulu bernama STPDN di Jatinangor adalah salah satu Lembaga Pendidikan Tingkat Kedinasan dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri yang semula berbentuk APDN, dan dibangun untuk mempersiapkan kader pemerintahan dalam negeri yang siap tugas dan siap dikembangkan dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan, baik di tingkat daerah maupun di tingkat pusat. STPDN Jatinangor merupakan penggabungan dari berbagai APDN di Indonesia agar tercipta koordinasi dan integrasi dalam pendidikan pemerintahan dalam negeri. Sebelum STPDN Jatinangor berdiri, lembaga pendidikan pemerintahan dalam negeri yang pertama berdiri adalah APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Malang, Jawa Timur, pada 1 Maret 1956. Karena tuntutan kebutuhan kader pemerintahan di daerah sangat besar, sejak itu satu demi satu APDN didirikan di berbagai Propinsi dan pada tahun 1970 telah berdiri APDN di 20 Propinsi. Sampai dengan tahun berakhirnya operasi APDN pada tahun 1991.

Berdasarkan Undang-undang No. 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No. 30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi, serta untuk mengantisipasi ruang lingkup tugas yang dihadapi oleh Departemen Dalam Negeri, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengaruh globalisasi yang luas, maka sistem pendidikan APDN disempurnakan dan dimantapkan. Pada tahun ajaran 1989/1990 sebanyak 20 APDN di daerah diintegrasikan menjadi satu APDN yang bersifat Nasional berlokasi di Jatinangor, dan dengan Keppres Nomor 42 Tahun 1992 tentang Pendidikan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, status APDN ditingkatkan menjadi STPDN serta diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 18 Agustus 1992. Jenjang kemahasiswaan di STPDN terdiri dari empat jenjang mahasiswa praja, yaitu masing-masing :   Muda Praja  (Semester I dan II),  Madya Praja (Semester III dan IV), Nindya Praja (Semester V dan VI) dan Wasana Praja (Semester VII dan VIII).

Sistem pendidikan di STPDN dilaksanakan dengan format JARLATSUH yaitu Pengajaran, Pelatihan dan Pengasuhan dengan komposisi 45 % : 30% : 25%. Sampai dengan sekarang di IPDN masih memakai pola JARLATSUH yang mungkin sudah dengan perubahan komposisi. Format ini kemudian menjadi pedoman bagi pelaksanaan pendidikan di IPDN/STPDN, dan untuk menunjang pelaksanaan pendidikan di kampus ditetapkan pula tentang Kode Kehormatan, Tata Krama, serta  Peraturan Kehidupan Praja yang mengatur kewajiban dan hak, cara bersikap, larangan dari mulai ringan sampai berat dan hukuman disiplin yang ringan sampai berat.
 
Selanjutnya yang penting dari sistem pengajaran, pelatihan dan pengasuhan atau JARLATSUH tersebut ialah sistem pendidikan asrama, salah satu pendekatan dalam mencetak kader pimpinan  pamong yang dipersiapkan untuk kehidupan bermasyarakat. Terlepas bahwa konsep tersebut telah diselewengkan oleh para aktornya sebagai tanda ketidak berhasilan proses pelembagaan di IPDN, konsep pendidikan JARLATSUH tersebut pada dasarnya menjawab kebutuhan kepemimpinan pamong. Untuk pamong dibutuhkan konsep kepemimpinan yang melekat sebagai pandangan hidup, bukan hanya kepemimpinan sebagai cara bertindak dan tidak cukup hanya kepemimpinan konvensional seperti asta-brata atau konsep kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro. Saat sekarang, ada kebutuhan kepemimpinan  dengan konsep ”kepemimpinan pandangan hidup” yang menurut Chris Lowney (2005) meliputi empat substansi pokok, yaitu : Pertama, kesadaran diri, memahami kekurangan dan kelebihan, mengenal nilai-nilai dan pandangan hidup; Kedua, in-genuitas, artinya kepemimpinan yang cerdik dan fleksibel dalam pengertian innovative dan bekemampuan untuk beradaptasi; Ketiga, cinta kasih dalam arti kontak pada orang-orang lain dengan cinta kasih dan dalam nilai-nilai yang positif; dan Keempat, heroisme, dalam arti bahwa mampu mengajak dan menyemangati diri sendiri dan orang lain dengan ambisi-ambisi yang heroik. Sejalan dengan itu maka konsep kepemimpinan kemasyarakatan atau disebut pamong  ciri utamanya ialah keteladanan atau pola prilaku dan akan dinilai orang dari kualitas pribadinya. Konsep kepemimpinan di tengah-tengah masyarakat mengandung substansi dan format yang meliputi : pertama, memobilisasi dan memotivasi masyarakat dan kedua, mengembangkan kebersamaan untuk menuju pada arah yang sama, dalam arti tujuan yang sama seperti membangun daerah dan menciptakan kesejahteraan. Format JARLATSUH dalam sistem pendidikan IPDN yang berorientasi kepemimpinan masyarakat atau kepamongan tersebut berlangsung dalam kehidupan praja dengan sistem pendidikan asrama.
 
Selama empat tahun bersama-sama berada didalam kampus Jatinangor bersimulasi dalam sistem tatanan kehidupan berpemerintahan dengan peran simulasi masing-masing antara lain sebagai Gubernur, Bupati, Camat, dan anggota masyarakat. Berbagai pengalaman baik dan buruk selama berada dalam gemblengan pendidikan, perlu dipersepsikan secara bijaksana. Komitmen para aktor akan suatu proses pelembagaan yang sudah dirancang konsepsinya, pelru dijaga secara konsisten dan IPDN harus menjadi institusi pendidikan PNS yang semakin flourishing ditengah-tengah  hingar-bingar mencari kepemimpinan politik eksekutif di berbagai strata pemerintahan. Namun, jelas kebutuhan mutlak adalah upaya yang dilandasi oleh kejujuran dalam perancangan dan implementasi kebijakan.



Terms of The Day

  • Constitution   Fundamental and entrenched rules governing the conduct of an organization or nation state, and...
  • Government   A group of people that governs a community or unit. It sets and administers public policy and...
  • Security   The prevention of and protection against assault, damage, fire, fraud, invasion of privacy, theft,...
  • Consumer Price Index (CPI)   A measure of changes in the purchasing-power of a currency and the rate of inflation. The consumer...
  • Risk   A probability or threat of damage, injury, liability, loss, or any other negative occurrence that...
  • Quality   In manufacturing, a measure of excellence or a state of being free from defects, deficiencies...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Kegiatan Siti Nurbaya

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  • 32
  • 33
  • 34
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • 40
  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • 45
  • 46
  • 47
  • 48
  • 49
  • 50
  • 51
  • 52
  • 53
  • 54
  • 55
  • 56
  • 57
  • 58
  • 59
  • 60
  • 61
  • 62

Gallery Video

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10

Semua Artikelku Untukmu

Wawancara & Kolom

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9