Tuesday, June 27, 2017

Meneliti Sosok Capres

Meski Pemilu masih dalam rentang waktu sekitar dua tahun lagi, berbagai catatan dikaitkan dengan peluang calon dalam Pilpres yang akan datang telah diperbincangkan. Seperti diungkapkan oleh John Martz pada Journal of Latin America Studies tahun 1992 bahwa di Kolombia, mantan Presiden kecuali telah meninggal dunia, kerap masih memiliki kekuatan pengaruh melalui publikasi pribadi, faksi dan pertalian, jaringan elit sosial ekonomi dan politik. Empat dari enam Presiden di Kolombia sejak 1958 secara aktif mengupayakan peluang untuk maju kedua kali setelah mandat konsitusionalnya berakhir. Dengan pola seperti itu, Presiden perlu memaksimalkan kekuatan politik dan pengaruhnya dalam jangka panjang sebagai jalan untuk maju kembali dalam pemilu berikutnya atau pemilu berikutnya lagi.
Untuk memaksimalkan kekuatan politik dan pengaruhnya itu, presiden perlu memperhatikan tiga hal pokok yaitu : pertama, survive didalam menangani kantor dari ancaman kudeta (survive in office); kedua perlu memerintah secara efektif (govern effectively), mengkreasikan pembangunan ekonomi dan pencapaian hasil-hasil pembangunan lainnya yang mendorong pemilih untuk memilihnya kembali serta; ketiga, perlu dibangun organisasi politik dengan loyalitas yang tinggi secara personal, bahkan loyalitas sampai dengan kondisi dimana sumber-sumber dari yang dimiliki presiden sudah melemah.
Untuk menjaga pemerintahan dengan efektif (govern effectively), presiden membutuhkan program-program yang disetujui oleh legislatif dan dukungan kompetensi birokrasi dalam implementasi. Strategi operasional untuk menjaga ketiga aspek office survival, effective governing dan loyal machine tersebut tentu akan berbeda menurut kondisi dan situasi lingkungan politik. Namun pengalaman menunjukkan bahwa dukungan administrasi pada sebanyak 44 presiden di Amerika Latin untuk mencapai itu melakukannya melalui dua hal kunci yaitu: membangun partai dan jaringan nasional; serta di kantor melakukan konsentrasi kerja dalam sistem dan jaringan loyalis. Ini sangat natural bahwa dalam penyelesaian banyak pekerjaan didorong koneksi partai atau loyalis sehingga mengesampingkan kompetensi.
Dalam aktualisasi sistem presidensial, Presiden, menurut Charles O. Jones, pada studi di Brookings Institutions tahun 1987 dan ditulis dalam bukunya pada tahun 1994 direfleksikan dalam empat ukuran, yaitu: ukuran personal, politik, institusional dan kekuatan kebijakan. Presiden dalam refleksi personal terlihat dari kinerja di kantor (perform in office). Presiden dalam refleksi politik, diindikasikan dalam dukungan sumber-sumber. Presiden dalam refleksi institusional dilihat dari hubungan eksekutif-legislatif (presidential-congresional). Presiden dalam refleksi kekuatan kebijakan, misalnya di Amerika Serikat dilihat dari fokus kebijakan apakah lebih bersifat domestik ataukah lebih mengutamakan kebijakan luar negeri. Di Indonesia saat sekarang dapat kita perkirakan fokus kebijakan yang ada.
Beberapa hal perlu diperhatikan untuk aktualisasi presiden pada sistem presidensial, dalam relevansi pemilihan presiden dan penyelenggaraan kekuasan presiden (governing). Pertama, menempatkan dan melangkah secara tepat dari transisi sebagai kandidat menjadi presiden yang permanen. Artinya setelah dengan segala kesibukan penggalangan, berkonsentrasi pada organisasi tertentu (seperti parpol dan tim sukses, misalnya), kegiatan yang intensif dan sekaligus konvergen, telah berubah situasi dan selanjutnya akan bekerja dan berpartisipasi sebagai figur yang permanen dan dalam struktur yang tersebar, bervariasi. Yang harus didalami adalah berbagai persyaratan dalam aktivitas yang baru itu.
Kedua, perlu bersikap realistik dengan segala kekurangan dan kelebihan dalam otoritasnya ataupun dalam otoritas pihak-pihak lain untuk saling berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Ketiga, perkiraan-perkiraan bahwa status dan sumber-sumber dukungan dalam aktivitas akan berbeda, misalnya dalam hal sumberdaya manusia, issue, organisasi, proses dan dukungan publik. Keempat, memantau dukungan publik antara lain melalui rating yang perlu disikapi secara skeptik oleh presiden dan perlu dipersepsikan bahwa konsep performa publik lebih berguna karena lebih substansial di tingkat lapangan dan dibuktikan oleh aktor-aktor lain. Rating yang tinggi tidak selalu dapat memberi keuntungan kepada presiden apabila tidak dapat diterjemahkan sebagai dukungan di kongres/parlemen. Hal ini dialami secara berbeda oleh Presiden Bush dan Presiden Clinton.
Kelima, dalam sistem presidensial yang betul-betul terpisah, mandat kepada presiden disertai harapan yang sangat tinggi, disisi lain dalam pelaksanaannya tetap dipengaruhi oleh anggota-anggota dalam kongres/parlemen (konteks Amerika). Keenam, dalam proses legislasi pembuatan UU, diperlukan saling memperhatikan antara unsur terlibat pembuatan UU. Perlu diproyeksikan apa komitmen masing-masing dan apa substansi kompromistiknya. Ini bukan hal yang mudah bagi kesuksesan presiden. Keterkaitan lembaga-lembaga negara yang terlibat dalam legislasi dan menyetujui kebijakan presiden, menjadi bagian dari proses yang mendukung dalam pencapaian harmonisasi.



Terms of The Day

  • Constitution   Fundamental and entrenched rules governing the conduct of an organization or nation state, and...
  • Government   A group of people that governs a community or unit. It sets and administers public policy and...
  • Security   The prevention of and protection against assault, damage, fire, fraud, invasion of privacy, theft,...
  • Consumer Price Index (CPI)   A measure of changes in the purchasing-power of a currency and the rate of inflation. The consumer...
  • Risk   A probability or threat of damage, injury, liability, loss, or any other negative occurrence that...
  • Quality   In manufacturing, a measure of excellence or a state of being free from defects, deficiencies...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Kegiatan Siti Nurbaya

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  • 32
  • 33
  • 34
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • 40
  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • 45
  • 46
  • 47
  • 48
  • 49
  • 50
  • 51
  • 52
  • 53
  • 54
  • 55
  • 56

Gallery Video

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9

Semua Artikelku Untukmu

Wawancara & Kolom

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9