Wednesday, December 13, 2017

Legislatif Perlu Keahlian

Parlemen dan Keahlian. Dalam format kerja parlemen Indonesia, seperti parlemen di negara-negara lain, dukungan keahlian dan administrasi merupakan dukungan yang esensial bagi aktualisasi legislator. Terdapat dua peran legislator yaitu pertama, peran on-public, ketika berinteraksi di tengah-tengah masyarakat dalam hal ini dengan konstituen; dan kedua, peran on-floor, ketika bekerja dalam komite kerja, dan lain-lain dengan bobot policy making dan public debate. Untuk kegiatan on-floor, lebih banyak dibutuhkan expertise atau keahlian bagi legislator di dalam komite yang secara umum harus menambah bobot Anggota dan komite dalam hal materi policy making dan ketika diperdebatkan dalam debat publik.
 
Parliamentary Expertise adalah pemahaman dan penguasaan prosedur parlemen, juga pengalaman dalam hal kontak atau interaksi parlemen dan lembaga pemerintahan. Seseorang yang dinyatakan expert atau ahli, adalah orang yang dipercaya sebagai sumber yang dikenal secara luas dan dapat dipercaya dalam hal teknik skill yang diketahui oleh publik, atau oleh suatu otoritas atau oleh mitra kerjanya (peers). Seorang Expert atau tenaga ahli berbeda dari seorang spesialis, yakni bahwa seorang specialist harus mampu memecahkan masalah (to solve the problem) sedangkan expert harus tahu solusi (to know solution).
Expert memiliki pengalaman yang panjang atau intensif melalui praktek dan pendidikan dalam bidang tertentu. Dalam bidang-bidang yang spesifik, definisi keahlian ditetapkan secara konsensus sehingga tidak harus selalu untuk seorang expert memiliki kualifikasi akademik untuk mereka dikatakan sebagai expert. Dalam hal ini misalnya seseorang selama 30-50 tahun bekerja dalam bidang tertentu dapat dikatakan sebagai orang yang memiliki keahlian atau expert. (Dalam sistem hukum atau peradilan terdapat definisi sendiri tentang saksi ahli yaitu dicirikan dengan otoritas dan argumentasinya).
 
Pengertian tentang expert juga berkembang secara luas dan informal dimana expert kemudian merupakan penilaian relatif dalam hal pandangan-pandangannya dimana terjadi misalnya tidak ada kriteria obyektif untuk menetapkan kriteria expert. Biasanya elitis akademik muncul sebagai expert manakala terdapat pendapat bahwa pandangan mereka adalah pandangan yang sangat berguna, bahkan kadang-kadang penilaian atas nilai expertise itu sendiri melebihi kapasitasnya secara personal. (Jadi lebih terdorong oleh posisi elitis akademik).
 
Dimensi-Dimensi Keahlian. Keahlian atau expertise dapat ditelusuri dimensi-dimensi dan standarnya. Beberapa dimensi yang ada dalam keahlian diantaranya : Pertama,  Dimensi otoritas yang dapat diterima, dengan standar subyek yang berhubungan dengan kebutuhan, memiliki contoh-contoh untuk validitas pandangannya, dan dapat berdebat, menerima atau mengatasi pandangan yang berlawanan. Kedua,  Dimensi educator dan interpreter dengan standar memiliki sejarah tentang subyek secara komprehensif, sintesa riset dan pikiran akan hal-hal baru yang relevan dengan itu, interpretasi temuan orang lain untuk pemahaman yang tepat  secara luas, menerjemahkan riset kepada hal-hal praktis, cara dan metode  serta skill.  Ketiga,  Dimensi kontributor dalam bidangnya dengan standar publikasi, hasil interaksi, kontribusi pemikiran asli dan diketahui orang lain, memiliki hak paten atas karyanya, mengajar setidaknya part timer di Universitas, memiliki buku yang dipublikasikan secara komersial, menghasilkan produk dalam bidangnya dan memperoleh penghargaan atas ide yang dicetuskannya; Keempat,  Dimensi preferensi, yaitu narasumber yang di-interview oleh media, memiliki klien aktif, muncul dalam undangan panel diskusi, dll, atau memiliki keterkaitan yang berulang-ulang.
 
Kelima, Dimensi konselor dan mentor, dengan standar coaching, mentoring dan mengarahkan; mewakili dan mengarahkan sisi pandang, dipercaya oleh mitra, diakui dan dihargai oleh orang lain atas kesuksesan dan fokus dibidangnya. Keenam,  Dimensi  konsistensi, yaitu memiliki pendekatan yang selalu dikembangkan dari kegiatan sebelumnya, konsisten dalam bidangnya selama bertahun-tahun, memaksakan untuk  penyesuaian cara berpikir di saat sekarang dan tidak selalu tergantung pada masa lalu. Ketujuh, Dimensi pengakuan publik yaitu memiliki penghargaan/award, menerima penghargaan, cukup jelas pasar yang menghendakinya, dikenal reputasi dan prestasinya, bekerja secara internasional, memiliki ciri yang unik dan jelas. Kedelapan, Dimensi kemajuan yang berkembang yaitu mengikuti pertemuan-pertemuan profesional, memiliki tingkat pendidikan profesional, menjadi anggota profesinya, berada pada kepemimpinan asosiasi dan dihargai akan teknik dan pendekatan yang dimilikinya. Kesembilan, Dimensi pelayanan, yaitu mengembangkan alternatif yang konstruktif, menyediakan substansi dukungan, memimpin komunitas yang relevan, dikenal sebagai guru yang excellent. Kesepuluh, Dimensi etika dan karakter yaitu berprilaku etika yang tinggi, mencatat secara jelas sumber referensi yang diambilnya, berbagi kredit penilaian dan pengakuan dengan orang lain, dipercaya dan menjadi contoh.

Pendekatan dalam menetapkan atau validasi kriteria. Diskusi tentang staf ahli bagi legislatif, juga berkembang pada aspek kriteria dan penetapan. Beberapa pendekatan dapat dilakukan untuk itu, seperti : 1) Aklamasi sosial, pengakuan secara aklamasi dan umum bahwa seseorang adalah expert, namun sering terjadi bahwa expert tersebut tidak searah dengan mitra; 2) Konsistensi Internal, artinya ditetapkan secara konsisten untuk semua  topik keahlian; dan 3) Konsensus kepercayaan artinya dipercaya bahwa expert selalu benar karena mereka melakukan penilaian yang sama  dengan expert lainnya.
 
Sebagai contoh, dapat diambil cara penetapan expert pada Senat Australia. Seorang ahli diharapkan dapat memberikan dorongan/motivasi dengan bobot : memberi inspirasi tujuan dan arah, fokus yang strategis, mampu melihat kesempatan, menggodok informasi, memberikan penilaian, intelegensia dan pandangan-pandangan umum (common senses). Seorang ahli juga diharapkan dapat mendorong untuk mencapai hasil, dengan bobot : memiliki kemampuan organisasi, memiliki keahlian profesional, menerapkan perubahan, mampu menjelaskan kerancuan dan terbuka. Seorang ahli diharapkan dapat memberikan contoh berintegritas, dengan bobot : profesional dan jujur, berani mengambil resiko, beorientasi aksi, langkah nyata,  memiliki ketahanan (resiliensi), waspada dan intropeksi dan komitmen untuk pengembangan pribadi. Seorang ahli diharapkan dapat menumbuhkan produktivitas dan hubungan kerja, memelihara dan membangun hubungan internal dan eksternal, memfasilitasi koordinasi dan kemitraan, menghargai perbedaan dan keaneka ragaman, membantu, membimbing serta mentoring dan membangun SDM. Seorang ahli juga diharapkan dapat berkomunikasi dan berpengaruh, dengan bobot : dapat berkomunikasi dengan jelas, mendengarkan, memahami dan menyerap audiensi yang berbeda-beda, dapat bernegosiasi secara persuasif.           
Dengan demikian sesungguhnya dengan fungsi politik legislator diantaranya untuk   melakukan pendalaman (bisa sampai dengan investigasi) dan pengungkapan fakta dan kebenaran (inquiry) untuk selanjutnya membangun konsensus politik dalam melahirkan dasar-dasar kebijakan publik, maka dibutuhkan kelengkapan diri berkenaan dengan constitutional law dan prosedur dalam governance serta hal-hal terkait kehidupan masyarakat, maka sangat diperlukan dukungan keahlian bagi DPR/DPD serta DPRD, dan mungkin mengenai kriteria keahlian tidak harus terlalu rigid atau strict diperdebatkan karena sifat dan dimensi keahlian yang cukup luas. (Disarikan dari  Buku ”The Expertise Imperative” oleh Alan Parise dkk ; Wikipedia, the free encyclopedia dan dari studi banding di Senat Australia pada Desember 2006).

Terms of The Day

  • Constitution   Fundamental and entrenched rules governing the conduct of an organization or nation state, and...
  • Government   A group of people that governs a community or unit. It sets and administers public policy and...
  • Security   The prevention of and protection against assault, damage, fire, fraud, invasion of privacy, theft,...
  • Consumer Price Index (CPI)   A measure of changes in the purchasing-power of a currency and the rate of inflation. The consumer...
  • Risk   A probability or threat of damage, injury, liability, loss, or any other negative occurrence that...
  • Quality   In manufacturing, a measure of excellence or a state of being free from defects, deficiencies...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Kegiatan Siti Nurbaya

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  • 32
  • 33
  • 34
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • 40
  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • 45
  • 46
  • 47
  • 48
  • 49
  • 50
  • 51
  • 52
  • 53
  • 54
  • 55
  • 56
  • 57
  • 58
  • 59
  • 60
  • 61
  • 62

Gallery Video

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10

Semua Artikelku Untukmu

Wawancara & Kolom

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9