Saturday, June 24, 2017

Pejuang Konservasi Masa Depan

 
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan kegiatan Kemah Konservasi Tahun 2017. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan ke-34 dan Hari Hutan Internasional Tahun 2017. Tema tahun ini yaitu “Aksi Konservasi untuk Penyadartahuan Masyarakat terhadap Hutan dan Konservasi”. Peserta yang terlibat sebanyak 319 orang, berasal dari kader konservasi serta anggota Gugus Depan Pramuka Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru. Kegiatan ini berlokasi di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM), Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung selama 3 hari mulai tanggal 31 Maret hingga 2 April 2017.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, memandang penting untuk menanamkan kesadaran melindungi kualitas lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati kepada generasi muda. “Agenda ini sangat penting untuk menjadi trigger atau gerakan untuk nasional”, ujar Siti Nurbaya. Sejarah membuktikan bahwa generasi muda merupakan aktor utama terjadinya perubahan fundamental dalam tatanan kehidupan.

Telah menjadi kesepakatan nasional bahwa konservasi dikaitkan dengan tidak saja untuk kepentingan menjaga kelestarian dan fungsi konservasi kita. Disamping itu, konservasi juga terkait dalam upaya pengembangan wilayah dan manfaat wilayah. Siti Nurbaya berpesan bahwa, ”Hutan sekarang tidak boleh ditakutkan lagi, karena hutan sudah harus menjadi bagian dari program pengembangan wilayah provinsi atau kabupaten”. Hal ini harus dijalankan dengan tetap menjaga kelestarian dengan konsep hutan sosial yang ada aturan-aturannya.

Pengelolaan kawasan konservasi tersebut seringkali menghadapi tekanan dan gangguan, perambahan dan perladangan liar, dan pencemaran lingkungan. Fakta di lapangan sudah ada masyarakat yang tinggal di dalam atau sekitar kawasan sebelumnya. Banyak desanya yang membutuhkan kehidupan. Terkadang ada yang mencoba menekan masuk kedalam kawasan hutan. Hal ini yang sekarang pemerintah berusaha atasi dengan program perhutanan sosial. Program ini memberikan akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Disamping dapat juga dengan menfaatkan jasa ekowisata. “Yang disebut HHBK dan jasa lingkungan itulah yang harus kita optimalkan,” kata Siti Nurbaya.

Melalui pembinaan generasi muda seperti pramuka dan kegiatan kemah konservasi ini diharapkan dapat tersampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat. Pramuka adalah ujung tombak pembangunan karakter bangsa untuk mempersiapkan kader muda bagi masa depan. “Generasi muda perlu terus dibina dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, keren, gembira dan asyik serta berwawasan konservasi dan lingkungan, tentu hasilnya akan luar biasa,” ungkap Siti Nurbaya. Untuk itu Siti Nurbaya berharap ada penyempurnaan dan pengembangan materi konservasi, metode dan media latihan rutin di tingkat Saka.

Anggota pramuka dan Kader Konservasi ini harus mampu menjadi teladan bagi generasi muda lainnya dalam pelestarian hutan dan lingkungan. Dengan memegang prinsip 3P, yaitu: perlindungan, pengawetan, dan *pemanfaatan* hutan dalam rangka konservasi. “Kehadiran mereka diharapkan dapat menjadi pejuang – pejuang konservasi masa depan,” pungkas Siti Nurbaya.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam Kemah Konservasi 2017 adalah pelepasliaran satwa, penaburan benur (benih udang), dan penanaman 7.000 batang mangrove. Pada kesempatan ini, Menteri LHK Siti Nurbaya mengukuhkan anggota baru kader konservasi Indonesia Provinsi Lampung. Dilakukan juga penyerahan izin pemanfaatan air/energi, izin usaha penyediaan jasa wisata alam dan izin pemanfaatan HHBK oleh Plt. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Bambang Hendroyono. Dilanjutkan dengan peluncuran Proyek “Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscape” di kawasan TNBBS.(***)