Wednesday, January 24, 2018

Apresiasi Presiden untuk Menteri Siti di Peringatan Hari Ibu

PRESIDEN Joko Widodo memberi apresiasi pada kinerja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, dalam mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan. Hal ini disampaikan Presiden pada puncak Peringatan Hari Ibu (PHI) di Pantai Waisai Torang Cinta, Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (22/12/2017).

PHI tahun ini digelar spesial di ujung timur Indonesia. Selain didampingi Ibu Negara Iriana, Presiden Jokowi memboyong para Menteri perempuan di  Kabinet Kerja untuk membawakan puisi spesial karya mereka.

Sesaat sebelum membaca puisi, Presiden Jokowi memperkenalkan kembali satu persatu profil dan capaian kerja para 'Srikandi' di kabinetnya, pada ribuan masyarakat yang terlihat antusias hadir di lokasi acara.

"Ini Menteri perempuan yang berhasil mengurangi banyak sekali kebakaran hutan dan lahan," kata Presiden sambil menunjuk ke arah Menteri LHK Siti Nurbaya.

Dalam kesempatan yang sama juga diperkenalkan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia Puan Maharani, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Yembise, Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Diungkapkan Presiden Jokowi, Indonesia patut berbangga karena pernah memiliki Presiden seorang perempuan. Di dalam kabinet kerja juga terdapat sembilan menteri perempuan.

"Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah menteri perempuan yang terbanyak. Rusia menteri perempuannya hanya satu, kita punya sembilan," kata Presiden bangga.

"Perempuan Indonesia benar-benar telah diberikan ruang untuk berperan dalam membangun Bangsa dan Negara," tegasnya lagi.

Dalam puncak PHI ke-89 tahun, Menteri LHK Siti Nurbaya membawakan sebait puisi sarat pesan tentang pentingnya peran Ibu dalam menjaga lingkungan.

"Jadilah  Ibu yang memelihara, menata, serta mengajarkan menciptakan lingkungan yang nyaman demi kelestarian, dan untuk kesejahteraan  Bangsa," begitu bait puisi yang dibawakan Menteri Siti.


* Karhutla Turun Drastis

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada tahun 2017 di Indonesia, memang jauh menurun bila dibandingkan dengan tahun 2015 dan 2016 lalu. Setelah hampir dua dekade rutin merasakan bencana Karhutla, akhirnya jutaan rakyat bisa bebas menghirup udara bersih, dan ekosistem lingkungan kian terjaga baik.

Pada Rakernas Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan beberapa waktu lalu, Menteri LHK Siti Nurbaya mengungkapkan berdasarkan Satelit NOAA 19 terdeteksi hotspot sebanyak 2.565 atau turun sebesar 32,55 % dibandingkan tahun 2016. Untuk satelit Terra/Aqua terdeteksi hotspot sebanyak 2.371 atau turun sebesar 38,08 % dibandingkan tahun 2016.

Luasan kebakaran hutan dan lahan pada periode akhir Oktober 2017 sebesar 150.457 Ha, turun sebesar 94,24% dibandingkan tahun 2015 dan sebesar 65,68% dibandingkan tahun 2016.

Selain koordinasi terpadu dari pusat hingga daerah, keberhasilan Indonesia menangani Karhutla juga hasil lahirnya kebijakan-kebijakan tegas pro lingkungan pemerintah di era Presiden Jokowi, salah satunya PP Perlindungan Gambut. Selain itu juga diberlakukan penegakan hukum yang tegas, baik pidana maupun perdata, berlaku juga bagi kalangan korporasi yang terbukti berbisnis dengan melanggar aturan.

"Menghadapi tahun 2018, penanganan Karhutla tetap dihadapkan pada banyak tantangan. Untuk itu kita perlu bekerja bersama-sama mengoptimalkan upaya pencegahan Karhutla melalui peningkatan peran para pihak termasuk di dalamnya pemberdayaan masyarakat, " ajak Menteri Siti.(*)