Saturday, August 19, 2017

Jurus Manggala Agni Cegah Kebakaran Lahan di Lokasi Rawan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya mencegah terjadinya kebakaran hutan. Meski demikian, tim pengendali kebakaran di KLHK tetap waspada.

"Meskipun belum terjadi kebakaran di beberapa lokasi rawan, Manggala Agni tetap melakukan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat. Seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan," tutur Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dalam keterangan tertulis dari KLHK, Selasa (8/8/2017).

Untuk diketahui, Manggala Agni adalah Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Indonesia yang dibentuk pada 2003. Kegiatannya meliputi pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca kebakaran hutan.

Sampai saat ini patroli terpadu telah dilaksanakan di 3 provinsi, yaitu 65 posko di Riau, 50 posko di Sumatera Selatan, dan 60 posko di Kalimantan Barat. Selanjutnya akan dilaksanakan patroli terpadu secara serentak di 8 provinsi yaitu di Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur pada pertengahan Agustus ini.

Sementara itu, groundcheck dan pemadaman terus dilakukan oleh Manggala Agni, bersama-sama dengan TNI, POLRI, BPBD, Dinas LHK, pihak swasta, dan Masyarakat Peduli Api. Di Sumatera Utara, pemadaman dilakukan di Dusun Podo Rukun, Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhan Batu, dengan 30 hektare lahan yang terbakar.

Di Riau, pemadaman dilakukan di Desa Sungai Putih, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar dan Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, yang dibantu water bombing pada lokasi kebakaran seluas kurang lebih 5 hektare. Serta di Desa Sungai Tengah, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak dengan luas kurang lebih 10 hektare.

Di Jambi pemadaman dilakukan di Desa Suban, Kecamatan Batang Asam, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sedangkan seluas kurang lebih 1,5 hektare telah dipadamkan di Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Berdasarkan data Posko Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), KLHK per (7/8/2017), menyebutkan pada Satelit NOAA19 tidak terpantau hotspot di wilayah Indonesia. Sedangkan 3 hotspot terpantau oleh satelit Terra/Aqua (NASA) dengan confidence level lebih besar sama dengan 80 persen, yang terletak di Kabupaten Merauke, Papua.

Data juga menyebutkan, 6 hotspot terlihat berdasarkan data Terra/Aqua (LAPAN), yaitu 1 titik di Sumatera Utara (Kabupaten Dairi), 1 titik di Jawa Tengah (Kabupaten Cilacap), 1 titik di Jawa Timur (Kabupaten Banyuwangi) dan 3 titik di Papua (Kabupaten Merauke).

Dengan demikian, total hotspot berdasarkan satelit NOAA19 per 1 Januari hingga 7 Agustus 2017 dilaporkan sebanyak 1.341 hotspot. Dibandingkan dengan 2016 periode yang sama, yaitu 1.295 hotspot, tahun ini terdapat kenaikan jumlah hotspot sebanyak 108 titik (3,55 persen).

Sedangkan data Terra/Aqua (NASA) per 1 Januari-7 Agustus 2017 (confidence level lebih besar sama dengan 80 persen), menunjukkan penurunan jumlah hotspot 1.809 hotspot (84,60 persen). Nilai ini dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama, yaitu semula 2.137 hotspot menjadi 334 hotspot.

Penerapan SNI

Potensi wisata alam pada kawasan konservasi di Indonesia berada pada 556 unit kawasan konservasi seluas sekitar 27 juta hektare. Menurut fungsinya dikelola sebagai taman nasional yakni 52 unit, taman wisata alam 118 unit, taman hutan raya 28 unit, taman buru 11 unit, cagar alam 219 unit, suaka margasatwa 72 unit, serta Kawasan Suaka Alam (KSA) atau Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yakni 56 unit.

Pemerintah Indonesia menargetkan kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara dan 275 juta wisatawan nusantara sampai 2019. Dari sektor pariwisata ditargetkan devisa negara Rp 240 triliun, memberikan kontribusi terhadap PDB 8 persen serta menyerap 13 juta tenaga kerja.

Dari target nasional tersebut, KLHK menetapkan target 2 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara ke objek wisata terutama kawasan konservasi melalui kegiatan pariwisata alam. Selain untuk memenuhi target tersebut, pengelolaan pariwisata alam diharapkan dapat menggerakkan perekonomian di daerah.

Dengan demikian kawasan konservasi yang memiliki fungsi utama sebagai kawasan pelestarian alam akan memiliki beban lingkungan tambahan akibat adanya target kunjungan wisata tersebut. Salah satu upaya mengurangi beban ini yaitu membekali pengunjung dengan pengetahuan konservasi. Pengunjung dituntut memiliki perilaku dan kesadaran yang berbeda dengan berwisata di tempat rekreasi lainnya.

Kepala Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan (Pustanlinghut) KLHK, Noer Adi Wardojo menilai saat ini peran kegiatan ekowisata dalam mendorong pemberdayaan sosial, budaya dan ekonomi berjalan cukup baik. Meski begitu, konservasi alam tetap menjadi aspek utama dalam kegiatan ekowisata.

"Hal ini harus disadari betul oleh para pemangku kepentingan dan pembelajaran memang masih harus terus diberikan untuk penggiat ekowisata," ujar Adi.

Menurut Adi, saat ini telah ada Standar Nasional Indonesia (SNI) 8013:2014 Pengelolaan Pariwisata Alam yang digunakan sebagai pedoman bagi pemangku kepentingan untuk pengelolaan pariwisata alam secara lestari. Prinsip-prinsip pengelolaan pariwisata alam sebagaimana dalam SNI ini yakni kelestarian fungsi ekosistem, kelestarian obyek daya tarik wisata alam (ODTWA), kelestarian sosial budaya, kepuasan, keselamatan dan kenyamanan pengunjung, serta bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat sekitar, pemerintah maupun pengusaha pariwisata alam.

Puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2017 yang dilaksanakan di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur menjadi momen untuk sosialisasi SNI Pengelolaan Pariwisata Alam dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.90/MENLHK/SETJEN/SET.1/11/2016. SNI tersebut tentang Standar Pelayanan Masyarakat Pada Pos-Pos Fasilitas Publik Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Lingkungan. Acara akan digelar pada (9/8/2017) besok.

"Dengan kegiatan sosialisasi ini diharapkan para pemangku kepentingan pengelolaan pariwisata alam dapat mewujudkan kegiatan wisata alam yang peduli lingkungan dan menjaga kelestarian alam (image branding). Sekaligus tetap memperbaiki tingkat layanan (level of services)," ucap Adi.
 
sumber :

Terms of The Day

  • Constitution   Fundamental and entrenched rules governing the conduct of an organization or nation state, and...
  • Government   A group of people that governs a community or unit. It sets and administers public policy and...
  • Security   The prevention of and protection against assault, damage, fire, fraud, invasion of privacy, theft,...
  • Consumer Price Index (CPI)   A measure of changes in the purchasing-power of a currency and the rate of inflation. The consumer...
  • Risk   A probability or threat of damage, injury, liability, loss, or any other negative occurrence that...
  • Quality   In manufacturing, a measure of excellence or a state of being free from defects, deficiencies...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Kegiatan Siti Nurbaya

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  • 32
  • 33
  • 34
  • 35
  • 36
  • 37
  • 38
  • 39
  • 40
  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • 45
  • 46
  • 47
  • 48
  • 49
  • 50
  • 51
  • 52
  • 53
  • 54
  • 55
  • 56
  • 57

Gallery Video

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9

Semua Artikelku Untukmu

Wawancara & Kolom

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
Website dibuat oleh NiagaWebsite.com