Wednesday, January 24, 2018

Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan, Manggala Agni Intensifkan Groundcheck Laporan Hotspot

Penanganan Karhutla 2017

Kondisi cuaca yang kering di bulan Agustus ini masih memicu kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Indonesia. Di Sumatera Selatan, Brigade Dalkarhutla KLHK-Manggala Agni yang tergabung dalam tim terpadu bersama anggota TNI, POLRI Masyarakat Peduli Api/Satgas Desa, BPBD didukung oleh tim satgas udara Provinsi Sumatera Selatan melakukan penanggulangan kebakaran lahan di Desa Arisan Jaya, Kecamatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir. Kebakaran yang menghanguskan sekurangnya 5 Ha tersebut berhasil ditanggulangi oleh tim selama 7 jam.

Di lokasi lain di tepatnya di Desa Tanjung Sari II, Kampung 3 Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten OKI, Manggala Agni bersama anggota TNI, POLRI, Dinas Perkebunan OKI dan masyarakat melakukan upaya pemadaman yang sudah berlangsung hingga hari kelima. Luas kebakaran mencapai 20 Ha dengan jenis vegetasi yang terbakar adalah tanaman karet dan semak belukar. Penanggulangan kebakaran yang terjadi di atas lahan milik masyarakat ini dilakukan selama kurang lebih 6,5 jam. Untuk mengantisipasi api terus meluas, dilakukan pemadaman api sisa (mopping up) dan pelebaran sekat bakar.

Untuk membantu upaya pemadaman dari darat, tim Satgas Udara Provinsi Sumatera Selatan melakukan water bombing dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) – hujan buatan. Water bombing menggunakan 4 pesawat heli. Heli BOLCOW 105/PK - EAJ PIC melakukan patroli dan water bombing sebanyak 2 sorti, sorti pertama di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir dengan jumlah water bombing 35 kali, jumlah air yang dijatuhkan 24.500 liter. Sorti kedua di lokasi yang sama dilakukan water bombing sebanyak 53 kali dengan jumlah air yang dijatuhkan 37.100 liter. Heli MI 8/EY-222 PIC melakukan dukungan water bombing, sebanyak 2 sorti pada lokasi yang sama dengan jumlah sorti masing-masing 40 kali water bombing dengan jumlah air yang dijatuhkan 160.000 liter. Heli MI 8/UP-MI815 PIC melakukan dukungan water bombing sebanyak 2 sorti, pada lokasi yang sama dengan masing-masing sorti 35 kali water bombing dengan jumlah air yang dijatuhkan sebanyak 140.000 liter. Sementara TMC dilakukan oleh pesawat Casa A-2104 TNI AU sebanyak 1 sorti. TMC dilakukan di atas wilayah Kabupaten OKI, Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Muara Enim. Bahan semai yang digunakan sebanyak 800 kg. Sepanjang 2017, Tim Satgas Udara telah melakukan upaya TMC sebanyak 16 kali terbang dengan bahan semai sebanyak 12,8 ton. Kondisi api masih belum padam , pemadaman darat dan udara terus dilakukan oleh Manggala Agni bersama-sama dengan Tim Satgas Udara.

Manggala Agni Daops Ketapang Kalimantan Barat melakukan pemadaman di Dusun Transmigrasi TR 1A, Desa Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Titik Koordinat S -1.91143 E 110.1076. Pemadaman dibantu oleh BPBD Ketapang, Pemadam kebakaran Kabupaten Ketapang, TNI, dan juga masyarakat sekitar areal kebakaran. Luas kebakaran mencapai 10 Ha dan api berhasil dipadamkan.

Manggala Agni Sumatera Utara juga melakukan pemadaman pada koordinat: N 2.8091 E 98.7997, di Dusun Dolok Sipugul, Desa Sirube Rube, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun dan juga di Koordinat: N: 02°40.744` E: 098°56.282`, Desa Bangun Dolok Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun. Pemadaman di Laksanakan oleh Tim Patroli Terpadu Daops Pematang Siantar. Sampai dengan hari ini (25/08/2017) tim Manggala Agni masih di lapangan.

Kebakaran juga terjadi di kawasan hutan jati Perum Perhutani tepatnya di Blok Kunyitan di sekitar kawasan Taman Nasional Baluran (S 07°53’42,1” E 114°20’03,2”) dan Blok Pos Karto (S 07°52’56,2” E 114°19’27,7”) pada Hari Kamis tgl 24 Agustus 2017. Berdasarkan laporan dari Komandan Brigdalkarhut Taman Nasional Baluran menyatakan bahwa lokasi yang terbakar tidak jauh dari jalur Pantai Utara tepatnya hutan Bitakol. Bahan terbakar berupa seresah daun jati. Sampai dengan saat ini belum diketahui penyebab dari kebakaran tersebut. Pemadaman sudah dilakukan pada kedua lokasi tersebut (24/08/2017) oleh Brigade Pengendalian Karhutla TN Baluran, Perum Perhutani, dan Polsek Banyuputih. Luas areal yang terbakar di Blok Kunyitan 3,2 Ha dan di Blok Pos Karto 1,9 Ha. Api berhasil dipadamkan meskipun kondisi angin di lokasi cukup kencang.

Upaya groundcheck (Kamis 24/8/2017) juga dilakukan oleh Manggala Agni Jambi. Berdasarkann laporan kegiatan patroli udara "Siaga Karhutla Provinsi Jambi" tanggal 23/8/2017 dengan pengambilan gambar lokaki bekas kebakaran dengan titik koordinat S 01°56'51.0" E 103°11'40.0", maka dilakukan groundcheck pada titik tersebut. Hasil groundcheck dilaporkan bahwa terjadi kebakaran di RT. 36, Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, koordinat kebakaran, S 01°56'47.6", E 103°11'43.6". Vegetasi yang terbakar adalah semak belukar dan tebangan pohon, dengan luas yang terbakar 2, 5 Ha dan merupakan areal konsesi Tahura.

Selain itu juga dilakukan groundcheck pada titik koordinat S 01°39'1" E 103°5'48" (Hotspot tanggal 23 Agustus 2017). Hasil groundcheck menunjukkan bahwa lokasi hotspot di Desa Rantau Kapas Tuo, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, koordinat lokasi bekas Kebakaran, S 01°39'02.4" E 103°5'54.4". Luas yang terbakar 1 Ha, kepemilikan lahan adalah milik masyarakat.
Raffles B. Panjaitan menjelaskan bahwa groundcheck hotspot (titik panas) dilakukan sebagai upaya pencegahan dini terjadinya kebakaran hutan dan lahan, dimana ketika ada titik panas, Manggala Agni langsung dicek ke lokasi apakah ada kebakaran atau tidak. Ketika ada kebakaran dapat segera dilakukan pemadaman dini sebelum kebakaran semakin meluas.

Hotspot atau titik panas merupakan indikator kebakaran hutan/lahan berupa titik koordinat lokasi yang diduga terjadi kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Titik panas atau hotspot adalah istilah untuk sebuah pixel yang memiliki nilai temperatur di atas ambang batas (threshold) tertentu dari hasil intrepretasi citra satelit, yang dapat digunakan sebagai indikasi kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Hotspot tidak selalu berarti kebakaran hutan dan lahan. Jika terjadi hotspot di suatu lokasi, maka kemungkinan di tempat tersebut terdapat kebakaran hutan atau lahan namun untuk mengecek kebenarannya diperlukan verifikasi lapangan (groundcheck). Tentunya beda hotspot dengan firespot. Hostpot sebagai salah satu indikasi adanya kebakaran hutan dan lahan sedangkan firespot itu sudah pasti kebakaran hutan atau lahan.

“Disini lah perlunya upaya pencegahan harus dilakukan secara maksimal oleh semua pihak, tidak hanya manggala agni tapi semua kalangan hendaknya juga ikut berpartisipasi dalam upaya pencegahan ini. Lebih baik mencegah daripada memadamkan.”, demikian disampaikan Raffles B. Panjaitan, Direktur pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim.

Disampaikan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) KLHK, hasil pemantauan Satelit NOAA19 tanggal 24 Agustus 2017 pukul 20.00 WIB terpantau 1 hotspot yaitu di Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sedangkan pantauan satelit TERRA/AQUA (NASA) (confidence level ?80%) dan juga satelit TERRA/AQUA (LAPAN) (confidence level ?80%), menyebutkan jumlah hotspot yang sama yaitu 12 hotspot dengan rincian 1 titik di Kabupaten Merauke, Papua; 2 titik di Kabupaten Bangka, Bangka Barat (Provinsi Bangka Belitung), 1 titik di Kabupaten Tulang Bawang (Provinsi Lampung); 3 titik di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Tenggara Barat (Provinsi Maluku), dan 5 titik di Kabupaten Manggarai, Alor, Sumba Timur, Kupang (Provinsi Nusa Tenggara Timur).

Dengan demikian, total hotspot berdasarkan satelit NOAA19 dari bulan Januari 2017 hingga 24 Agustus 2017 dilaporkan sebanyak 1.533 titik. Hal ini menurun sebanyak 730 titik (32,25%), jika dibandingkan tahun 2016 periode yang sama, yaitu semula 2.263 hotspot.

Adapun data lainnya, berdasarkan satelit TERRA/AQUA (NASA) per 1 Januari s/d 24 Agustus 2017 (confidence level ?80%), juga menunjukkan penurunan sebanyak 2.144 hotspot (75,54%), jika dibandingkan tahun sebelumnya periode yang sama, yaitu semula 2.838 hotspot menjadi 694 hotspot.(*)