Wednesday, January 24, 2018

Tiga Provinsi Akhiri Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kathutla

Penanganan Karhutla 2017

Hari ini 31 Oktober 2017, Tiga provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengakhiri masa Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Huran dan Lahan. Ketiga provinsi tersebut adalah Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Memang dalam sepekan terakhir, jumlah hotspot pada ketiga provinsi tersebut sudah menunjukkan jumlah yang sangat kecil, bahkan untuk Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan pantauan hotspot sudah Nihil. Kondisi ini merupakan buah dari kerja keras para pihak yang bahu membahu melakukan berbagai upaya pengendalian karhutla di wilayah-wilayah rawan.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, Raffles B. Panjaitan mengungkapkan bahwa kinerja yang baik semua pihak telah membuahkan hasil yang sangat baik dimana provinsi-provinsi rawan karhutla pada masa Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan sudah berhasil menangani semua kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya.

“Sinergitas dan kerjasama antara Manggala Agni dan Satuan Tugas Provinsi dalam bekerja menanggulangi karhutla telah menunjukkan hasil nyata dimana kebakaran dapat diatasi tidak sampai menimbulkan dampak asap seperti kejadian tahun 2015 lalu”, jelas Raffles.

Provinsi Sumatera Selatan menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan sejak 31 Januari 2017 lalu, Provinsi Jambi sejak 24 Juli 2017, dan Provinsi Kalimantan Barat sejak 1 Juni 2017. Selama masa Status Siaga Darurat, ketiga provinsi tersebut telah melakukan berbagai upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Upaya tersebut mulai dari kegiatan-kegiatan pencegahan seperti sosialisasi, penyuluhan, dan juga patroli terpadu pencegahan karhutla sampai dengan upaya penanggulangan baik melalui pemadaman darat maupun pemadaman udara.

Upaya-upaya tersebut dilakukan secara terpadu dan sinergi antara Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK – Manggala Agni bersama-sama dengan para pihak seperti TNI, Polri, BNPB, Pemerintah Daerah, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan juga masyarakat.

“Kerjasama yang baik ini harus tetap terjalin untuk penanggulangan karhutla pada tahun-tahun yang akan datang. Apalagi sebentar lagi sudah memasuki tahun 2018, dengan kondisi cuaca yang tentunya berbeda dengan tahun ini,” imbuh Raffles.

Sementara itu, jumlah hotspot berdasarkan pantauan satelit NOAA pukul 20.00 WIB (30/10/2017), terpantau 2 hotspot yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. Sedangkan satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level ?80%, menunjukkan 17 hotspot yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 12 hotspot, Sulawesi Tengah 3 titik, dan 2 hotspot di Jawa Barat. Dengan demikian, untuk periode 1 Januari – 30 Oktober 2017 pada satelit NOAA, terdapat 2.516 hotspot di seluruh Indonesia. Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2016, tercatat sebanyak 3.719 hotspot, sehingga terdapat penurunan sebanyak 1.203 hotspot atau sebesar 32,34%.

Penurunan sejumlah 1.496 titik (40,34%) juga ditunjukkan oleh satelit TERRA-AQUA (NASA) confidence level ?80%, yang mencatat 2.212 hotspot di tahun ini, setelah sebelumnya di tahun 2016, tercatat sebanyak 3.708 hotspot. (*)