Friday, April 20, 2018

Sambutan Menteri LHK pada dialog dengan Pejuang Perempuan untuk Keadilan dalam Pengelolaan SDA


PENGANTAR MENTERI LHK
PADA DIALOG DENGAN PEJUANG PEREMPUAN UNTUK KEADILAN DALAM PENGELOLAAN SDA

SELAMATKAN BUMI, SELAMATKAN KEHIDUPAN
Jakarta, 28 Maret 2018


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Adil dan Setara,
Salam Sejahtera untuk kita semua.


Pertama-tama saya mengajak kita semua untuk bersyukur kepada Tuhan YME atas kesempatan dapat bersama-sama hari ini.

Atas nama Pemerintah saya menyampaikan apresiasi dan rasa hormat yang mendalam terhadap para pejuang keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya para pejuang perempuan yang telah sungguh-sungguh dan tak kenal lelah terus memperjuangkan kualitas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai hak konstitusional warga negara.

Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan atas kesediaan hadir kawan-kawan para aktivis siang hari ini.

Saya ingin mengajak kita semua untuk mensyukuri kodrat kita sebagai bangsa besar dan majemuk dengan akar budaya yang sangat arif dan bijaksana terhadap alam. Banyak adat dan budaya bangsa ini memandang alam sebagai ibu. Bila alam disakiti maka sakitlah sang ibu. Bila sang ibu sakit maka terganggulah kehidupan keluarga. Karenanya keluarga diharuskan menjaga sang ibu agar tak disakiti. Sungguh ini adalah ajaran kebijaksanaan yang luhur dalam interaksi manusia dengan alamnya. Saya yakin nilai-nilai tersebut masih dipertahankan oleh banyak komunitas, termasuk para pejuang perempuan yang saat ini berkumpul disini.

Hampir di semua kebudayaan penyebutan atas bumi adalah perempuan. Kita menyebutnya dengan Pertiwi. Dibelahan negara lain menyebutnya Gaia atau Mother Earth atau penyebutan lain yang maknanya adalah perempuan atau ibu. Sebagai contoh pada masyarakat Indian-Amerika, laki-laki dan perempuan berinteraksi dengan landscape atau bentang alam, mulai dari kebutuhan raw material hingga kreasi akhir yang indah, dan dengan selalu menyampaikan ucapan terima kasih. Landscape direfleksilkan sebagai Mother Earth, secara aktif memberi kepada manusia, artist, juga pekerja seni, dan sebaliknya dalam pola traditional yang tidak tampak, dan diantaranya disampaikan dalam pola-pola ritual. Dalam film Navajo tahun 1966 digambarkan Untuk Pubelo dan Navajo, bumi digambarkan sebagai female dan langit sebagai male. Dan digambarkan juga bahwa clay adalah daging atau flesh dari ibu (mother). Clay atau lempung adalah substansi bumi. Digambarkan oleh Helen Cordero tentang refleksi berterima kasih itu sebagai : “ I dont just get up in the morning and start making potteris. First, I go and talk to Grandma Clay”.

Di Texas Selatan, Rebecca Gonzales menuliskan bahwa padang pasir landscape terdiri dari tiga bagian yang terintegrasi secara kuat yaitu : rock atau batuan sebagai simbol kekuatan dan endurance, kekuatan untuk bertahan dari rasa sakit dan kesulitan tanpa mengeluh; kedua, cactus, sebagai gambaran perempuan serta hujan sebagai simbol instrumen perubahan.

Ini sejalan dengan perkembangan teoritik tentang. Landscape secara teori memilki sejarah sosial, proses evolusi, suksesi struktur dinamika manusia dan modifikasi manusia, serta sebagai social-natural evolutionary history. Disitu ada dinamika penggunaan dan dinamika populasi, serta terjadi proses antar struktur yang menentukan hubungan sosial, struktur spasial inti serta akhirnya memberi arti atau manfaat bagi masyarakat, yakni masyarakat dalam arti mosaik jaringan semi otonom yang bergerak dalam ukuran dan komposisi menurut waktu.

Landscape juga merupakan cultural image, mengilustrasikan ketampakan atau hal-hal yang diwakili, struktur atau simbol-simbol di sekitarnya. Sebagai ruang, pada landscape itu ada human sense, juga sebagai tempat yang esensial untuk survival, dan untuk mengembangkan zona seperti depan dan belakang, gelap dan terang, bersih dan kotor, sakral atau sekuler. Sebagai waktu, landscape mengandung arti proses mencapai tujuan, durasi dan order atau sistimatika, struktur, sekuensial akitivitas.

Dimensi ruang dan waktu pada Landscape secara bersama-sama membentuk elemen yang ketiga yaitu social actions suatu upaya mempengaruhi atau mencegah perubahan, dan akhirnya menjadi refleksi basis kekuatan/kekuasaan yang didalam analisis dan berbagai langkahnya memerlukan konteks ecological, social and cultural menjadi pertimbangan sekaligus. Dan refleksi itu akan terlihat pada foto-foto hasil jelajah peliputan saat ini.

Berbicara landscape akan terkait dengan 3 persoalan : archeological herritage, management of cultural landscape serta sustainable future. Untuk siapa? Kapan waktunya dan untuk standar kesejahteraan yang seperti apa? Untuk menjawab hal tersebut yang dengan ciri dinamis, maka land use patterns atau tata ruang perlu hadir secara dinamis dan merespons secara konstan perubahan ekologi, politik dan sosial ekonomi. Disini muncul ciri ketahanan (resiliensi). Yang semua itu disebut sustainable cultural landscapes. Oleh karena itu ketika kita membicarakan tentang tata ruang, sesungguhnya kita sedang menjaga ruang budaya manusia, ruang budaya bangsa.

Karenanya menjadi sangat tepat bila perempuan mengambil peran besar sebagai perawat dan pemelihara bumi, memelihara budaya, agar dapat memberikan kehidupan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan.

Saya menyakini masih sangat banyak perempuan pejuang keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam belum terhubung satu dengan lainnya, seperti kita yang ada dalam ruangan ini.

Saya mengetahui bahwa sebagian besar (sekitar 85%) penggerak dari 5.300 Bank Sampah yang tersebar di 273 Kabupaten/Kota adalah perempuan. Demikian pula penerima Kalpataru sebagai Perintis dan Penyelamat Lingkungan Hidup sangat banyak dari kaum perempuan.

Saya juga kenal banyak perempuan yang aktif menyelamatkan sungai dan mata air, isu-isu pencemaran hingga aktif dalam pemulihan alam melalui program Hutan Sosial. Oleh karena itu saya berharap kegiatan dialog hari ini dapat menjadi pembuka bagi terhubungnya beragam inisiatif dan perjuangan perempuan-perempuan hebat demi masa depan bangsa yang besar ini.

Saya menyakini bahwa tumbuhnya semangat perjuangan perempuan untuk menyelamatkan lingkungan hidup juga lahir akibat praktik pemanfaatan sumber daya alam yang puluhan tahun telah berdampak serius bagi lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat khususnya kaum perempuan.

Kerusakan itu melahirkan beban derita yang sebagian besar dipikul oleh perempuan. Karenanya saya memandang penting setiap kebijakan pengelolaan sumber daya alam harus berperspektif gender.

Sumber daya alam merupakan modal pembangunan nasional dan sekaligus sebagai penopang sistem kehidupan. Sumber daya alam yang lestari akan menjamin tersedianya sumber daya yang berkelanjutan bagi pembangunan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, dan adil, sumber daya alam harus dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan pembangunan nasional. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan di seluruh sektor dan wilayah menjadi prasyarat utama dalam pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan.

Bagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kebijakan mainstreaming gender dalam seluruh program, mulai dari perencanaan, implementasi hingga pada monitoring dan evaluasi bukan hal baru. Gender mainstreaming juga terlihat dalam perumusan kebijakan.

Peraturan Menteri tentang Perhutanan Sosial telah dengan tegas menyebutkan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan hutan sosial. Kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam menyelamatkan alam dan menyejahterakan keluarganya.

KLHK telah mengalokasikan 12.7 juta hektar hutan untuk masyarakat melalui program hutan sosial. Program ini diharapkan dapat memperkecil ketimpangan pengusahaan hutan antara korporasi dan masyarakat. Program ini juga diharapkan juga dapat menumbuhkan pemerataan ekonomi di desa-desa yang berada di dan sekitar kawasan hutan sekaligus pemulihan kawasan yang telah terdegradasi.

KLHK secara sungguh-sungguh menurunkan kasus kebakaran hutan dan lahan. Dampak kebakaran hutan yang terjadi selama ini jelas sangat merugikan bagi perempuan dan anak. Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan telah mengganggu pernafasan, paru paru serta reproduksi perempuan . Dan dampak terhadap kesehatan perempuan selama ini tidak pernah diperhitungkan oleh para pelaku pembakar hutan. Bukan hanya kerugian ekonomi sesaat yang kita alami, namun juga kerugian fisik jangka panjang bagi perempuan.

Upaya lain untuk gender mainstreaming di KLHK adalah penandatangan MoU antara KLHK dengan Kementrian PPPA tentang percepatan pelaksanaan pengarus utamaan gender , pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam pembangunan bidang lingkungan hidup dan kehutanan, serta pengendalian perubahan iklim.

KLHK juga memiliki komitmen untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan kebijakan dalam struktur kerja kementrian, mulai dari pejabat eselon 1,2,3.

KLHK juga akan memasukan analisa gender dalam rencana perubahan kebijakan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) agar kedepan setiap dokumen AMDAL memiliki analisa gender yang baik. Demikian pula dengan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dimasa mendatang harusnya memiliki analisa gender yang baik

Mari terus merawat ibu pertiwi dengan hati dan kejujuran untuk Indonesia yang adil dan beradab.

Saya ingin mengutip ilustrasi hubungan yang intens dan continue seorang anak manusia, penulis Chicana dengan bumi berjudul “The Knowing Earth” oleh Gina Valdes (dalam buku the Desert is No Lady,tahun 1997) :

In this my own land, I stand an alien
Mistreated, oppressed, unwanted at best ignored
But this knowing earth recognizes me
Like a mother recognizes her child
This earth welcomes me, it opens to me
I caressed this earth with songs, whispers and sighs
I broke and turned this earth with my dancing feet
I moistured this earth with hard rainfalls of tears
I nourished this earth with my rich, warm, faithful blood
I fertilized this earth with miseries, pain and fears
Maddened, I spit poetry over it
They scorn me, turn me away from this, my land
But his knowing earth recognies me
Like a dog recognizes its master
This earth welcomes me, it kisses my feet

Demikian, kurang lebih mohon maaf, terima kasih atas perhatian semua dan semoga Tuhan merestui langkah-langkah kita bersama.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI

Siti Nurbaya























































Website dibuat oleh NiagaWebsite.com