Friday, April 20, 2018

Sambutan Menteri Siti Nurbaya pada Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya Lingkup KLHK

 
SAMBUTAN
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
PADA PELANTIKAN
PEJABAT PIMPINAN TINGGI MADYA
LINGKUP KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
DAN KEHUTANAN

 
 
Jakarta,Senin, 2 April 2018

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.
Om Swasti Astu


Yang saya hormati:
  • Para Pejabat Pimpinan Tinggi Madya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK);
  • Para Staf Khusus, dan Tenaga Ahli MenteriLingkungan Hidup dan Kehutanan;
  • Para Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, dan Pejabat Administratorlingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan;
  • Serta Hadirin sekalian yang berbahagia.
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, kepada-Nya kita mengabdi dan memohon pertolongan serta atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya pada hari ini kita dapat melangsungkan Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam keadaan sehat wal’afiat.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Pada hari ini dilantik 3 (tiga) pejabat Pimpinan Tinggi Madya lingkup KLHK, yaitu: Inspektur Jenderal, Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, dan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. Saya mengucapkan selamat kepada para pejabat yang baru saja dilantik dan diambil sumpah jabatannya.

Sebagai pejabat Pimpinan Tinggi Madya, Saudara adalah penanggung jawab visi unit Eselon I serta mengarahkan gerak untuk mencapai sasaran/target organisasi melalui Satuan Kerjanya dalam mendukung dan mengawal keberhasilan pencapaian program kerja Kementerian LHK.

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Tantangan dalam mengelola lingkungan dan hutan Indonesia sangat besar, khususnya menjaga dari ancaman pembalakan liar, perambahan, kebakaran, pemanfaatan hutan yang eksploitatif, pencemaran limbah dan sampah, hingga menjaga unsur-unsur keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Menjaga hutan saat ini tidak hanya ditujukan untuk menjaga keberlangsungannya secara fisik, namun juga bagaimana menjaga keberlangsungan manfaat hutan itu sendiri, dan khususnya agar dapat memberikan kontribusi kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya.

Kondisi hutan dapat dildekati dari angka deforestasi netto (angka deforestasi dikurangi dengan angka aforestasi) Indonesia pada periode 2014-2015 sebesar 1,09 juta hektar, dan pada periode 2015-2016 turun menjadi 0,63 juta hektar. Sebaran deforestasi paling banyak terjadi di kawasan hutan produksi, yang mencapai angka 63 % akibat open access dll yang perlu terus didalami sehingga bisa diperoleh solusi yang tepat.

Luas lahan kritis di Indonesia tahun 2016 masih seluas 24.303.294 Ha. Luas lahan kritis tersebut sudah menurun dibandingkan tahun 2006 seluas 30.196.799 hektar. Tidak mungkin hanya Kementerian atau Pemerintah sendirian menangani permasalahan lahan kritis di Indonesia, semua pihak harus ikut terlibat dalam upaya pemulihan lahan kritis, mengingat Pemerintah melalui APBN hanya mampu melakukan rehabilitasi hutan seluas 500 ribu hektar per tahun. Kerja sama pemerintah dengan berbagai instansi BUMN, sektor swasta, serta masyarakat sangat diperlukan.

Diperlukan pengawasan intern yang kuat oleh inspektorat jenderal, dalam hal kinerja para pegawai. Inspektorat Jenderal tidak hanya sebagai pemeriksa, tapi juga melekat fungsi pembinaan dan pengawasan. Hasil nyata kinerjanya dapat diukur dari opini keuangan kementerian. Jika pada 2016 opini laporan keuangan KLHK adalah Wajar Dengan Pengecualian (WDP), diharapkan tahun ini, KLHK kembali meraih Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Untuk mencegah bencana banjir dan longsor pada musim hujan, KLHK perlu menggiatkan penanaman pohon di daerah hulu, rehabilitasi hutan dan lahan, membuat bangunan konservasi tanah dan air seperti sumur resapan, Dam penahan, Gulli Plug, pengerukan sungai, dan mengubah budaya tani hortikultura ke tanaman kayu-kayuan.

Hal yang penting diperhatikan sebagai solusi pencegahan bencana adalah kerja sama dan pembagian peran antar instansi dan individu, peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Jika 250 juta masyarakat Indonesia ikut menanam minimal 25 pohon seumur hidup, maka permasalahan lahan kritis di Indonesia akan dapat terselesaikan dengan cepat. “Ada pohon ada air, ada air ada kehidupan, ada kehidupan ada kesejahteraan”.

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Berdasarkan hasil inventarisasi Kawasan Hidrologis Gambut (KHG) Nasional KLHK tahun 2017, terdapat total 865 KHG dengan luas 24.667.804 Ha, yang terdiri dari 12.398.482 Ha fungsi lindung dan 12.269.312 Ha fungsi budidaya. KHG ini tersebar di Sumatera sebanyak 207, 190 di Kalimantan, tiga di Sulawesi, dan 465 di Papua. Setiap KHG ditetapkan 30 persen sebagai Fungsi Lindung Ekosistem Gambut(FLEG), yang salah satu tujuannya untuk keperluan keseimbangan neraca air. Di wilayah Ekosistem Gambut fungsi budidaya, dengan tetap menjaga ketinggian muka air tanah mencapai kurang dari 0,4 m di bawah permukaan gambut.

Bercermin dari kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut yang memberikan dampak kerugian moril, materiil, hingga kehilangan jiwa, Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan perlindungan dan pengelolaan kawasan gambut.Terkait hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerbitkan Peraturan Pemerintah RI Nomor. 57 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor. 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

Luas ekosistem gambut yang berada di kawasan HTI diketahui seluas 2.641.483 Ha dan 1.427.786 juta Ha merupakan fungsi lindung, dengan terbitnya peraturan kebijakan ini, setiap perusahaan wajib melaksanakan inventarisasi eksosistem gambut, revisi Rencana Kerja Umum (RKU), mengajukan permohonan penyesuaian perijinan, serta wajib mentaati semua persyaratan lainnya sesuai peraturan tersebut.

Ada tiga hal yang menjadi unsur utama dalam tata ruang di HTI yaitu areal lindung, tanaman pokok, dan tanaman kehidupan. Jika areal tanaman pokok menjadi fungsi lindung, maka tanaman pokok boleh ditebang pada umur daurnya namun tidak boleh ditanami kembali, harus dibiarkan suksesi alami atau pengayaan sesuai jenis endemiknya.Perusahaan perkebunan yang berlokasi di wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Ekosistem Gambut, diwajibkan untuk memulihkan kawasan Fungsi Lindung Ekosistem Gambut (FLEG), sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 jo. Nomor 57 Tahun 2016, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

Kondisi lahan gambut kita dengan telah dilakukannya upaya-upaya nyata restorasi, saat ini cukup dikatakan aman dengan telah kembali tergenanginya lahan-lahan gambut yang masih primer atau belum dibuka, ini didukung dengan regulasi berlapis (PP, PermLHK, Perdirjen) sehingga betul-betul bisa menjaga kondisi gambut terbasahi sebagaimana ekosistem awalnya.

Selain itu, pencegahan kerusakan hutan juga dapat diwujudkan dengan adanya keterlibatan masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, misalnya melalui pengembangan jasa lingkungan wisata alam, yang dapat melibatkan masyarakat untuk menjadi pelaku usaha, dan sekaligus akan menimbulkan kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Dalam mengahadapi berbagai persoalan di lapangan, perlu dilakukan mediasi dalam semua proses yang telah dilakukan, serta pentingnya langkah-langkah persuasif dan responsif.Langkah regulasi yang selama ini kita lakukan, harus ada langkah-langkah responsif bagi masyarakatkarena masyarakat akan sangat berterima kasih, dan kita akan memberikan ruang untuk masyarakat semakin percaya kepada pemerintah.

Kepada para pejabat yang telah dilantik, perlu dilakukan corrective measures dan corrective action dalam berbagai sektor. Saya minta tolong kepada semua pejabat, dalam pendekatan kerja, langkah kita merupakan langkah lintas Direktorat Jenderal, lintas komponen KLHK, dan tidak berdiri masing-masing. Kita juga perlu memahami dengan baik hubungan antara kebijakan dan peristiwa-peristiwa yang kita hadapi, sehingga kita tahu persis, ada forward linkage-nya dan ada backward linkage-nya, jadi antar Ditjen dan Badan-badan akan tahu dimana maksud, dan bagaimana pola kerjanya agar satu vektor dan searah dengan arah KLHK. Jangan pernah ragu dalam melakukan langkah-langkah praktis, ketika dibutuhkan dan situasi sangat mendesak, karena itu merupakan bagian dari peran publik pimpinan KLHK.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Akhir kata, kepada pejabat yang dilantik, saya ucapkan selamat bertugas di tempat yang baru, dan dapat memegang teguh sumpah/janji yang Saudara ucapkan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membimbing dan melindungi langkah-langkah kita.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam Sejahtera Untuk Kita Semua
Om Shanti Shanti Shanti Om


MENTERI LINGKUNGAN HIDUP
DAN KEHUTANAN

Dr. Ir. SITI NURBAYA, M.Sc
 






































Website dibuat oleh NiagaWebsite.com